Kondisi perekonomian downturn mungkin memaksa banyak bisnis/perusahaan untuk mengurangi atau bahkan menstop inovasi. Namun, kasus ini tidak berlaku bagi segelintir perusahaan, termasuk diantaranya Research in Motion (RIM)., produsen smartphone BlackBerry yang kini semakin populer di dunia. Meskipun perekonomian mengalami downturn, namun RIM tetap mempercayai bahwa inovasi adalah kunci untuk unggul dalam persaingan.
Fokus pada inovasi yang dilakukan oleh RIM juga tercermin dari laporan bahwa mereka kini justru akan melakukan rekrutmen dalam jumlah besar terkait dengan aktivitas inovasi. Berlawanan dengan yang dilakukan oleh para pesaingnya, yakni Nokia, AT&T hingga Sony Ericsson yang berusaha memangkas biaya dengan cara melakukan PHK, RIM justru berencana untuk melakukan rekrutmen dalam jumlah besar.
Financial Post melaporkan bahwa RIM saat ini membutuhkan sekitar 1,250 karyawan baru di seluruh dunia, mulai dari di AS hingga Australia. Sebagian besar lowongan pekerjaan ini ada di kantor pusat Ontario, Canada, dan terkait dengan pengembangan produk serta aktivitas R&D.
Inovasi memang sudah menjadi komitmen perusahaan. Mike Lazaridis, pendiri RIM sekaligus menjabat sebagai co-CEO, seperti dikutip Business Week menyatakan bahwa jika ingin menciptakan sesuatu yang bersifat sustainable dan inovatif, maka Anda harus berinvestasi pada R&D. Dan itulah yang selalu dilakukan RIM secara konsisten: menelurkan ide, melakukan riset serta mengembangkan produk yang inovatif dan dapat dipasarkan.
Komitmen RIM terhadap inovasi terlihat dari tahun 2008 dimana RIM tidak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan investasi pada R&D. Pengeluaran R&D-nya tahun 2008, menurut laporan kuartal ke-3, melonjak nyaris 110% ke level $193 juta (Rp 2.1 trilyun). Sementara itu, penjualan RIM tahun 2008 juga cukup kuat, yakni menanjak 66% ke level $2.8 miliar (Rp 30.8 trilyun). Penjualan ini dipicu oleh permintaan yang kuat terhadap model-model BlackBerry yang baru diluncurkan, seperti misalnya BlackBerry Storm dan BlackBerry Bold. Meskipun begitu, gross profit margin lebih tertekan karena cost of sales yang naik, yakni turun dari 50.7% menjadi 45.6%. Namun operating profit margin justru lebih bagus, yakni dari 21.4% tahun 2007 menjadi 22.6% tahun 2008.
Dari data pangsa pasar yang dikeluarkan oleh Gartner, tercatat bahwa pada kuartal 3 tahun 2008 RIM masih menduduki posisi pangsa pasar terbesar kedua di seluruh dunia, dengan 15.9%, naik tajam dibandingkan dengan tahun 2007 lalu. Sepertinya, BlackBerry berhasil mencuri pangsa pasar dari Nokia yang pada tahun 2008 justru melemah dari 48.7% menjadi 42.4%. Yang menjadi penantang terbesar justru Apple dengan iPhone-nya, yang berhasil mencatatkan pertumbihan pangsa pasar secara signifikan, yakni dari 3.4% menjadi 12.9%. Sementara itu, penjualan dalam unit tercatat bahwa Apple melonjak 327.5%, dibandingkan dengan RIM yakni 81.7%.
Demi semakin memperkuat posisinya di pasar smartphone, jelas inovasi adalah senjata andalan RIM. Dengan kekuatan pada investasi R&D, maka RIM diperkirakan akan tetap mengeluarkan produk-produk inovatif yang mendongkrak bottom linenya. Meskipun downturn perekonomian menghantui, namun RIM seharusnya punya strategi tersendiri dalam mengembangkan produk yang inovatif namun terjangkau oleh konsumen. Oleh karena itu, di masa depan mungkin kita masih akan melihat RIM yang semakin mengambil pangsa pasar smartphone Nokia dan bersaing ketat dengan iPhone Apple .
Sumber: managementfile.com